Tak Sesuai Spek, Batu Bronjong di Jembatan Raja Sebesar Buah Mangga

20
  • Mbay, CNNews.Id– Pekerjaan Bronjong di Jalan Negara Trans Flores, khususnya di Jembatan Raja, Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT diduga tak sesuai spesifikasi (Spek) dan Bestek karena batu yang digunakan untuk pekerjaan Bronjong tersebut hanya sebesar buah mangga. Pekerjaan tersebut merupakan salah satu item Proyek Preservasi Jalan Negara Ruas Gako-Aegela-Danga-Nila-Marapokot senilai Rp 6,2 Milyar oleh anak perusahaan PT. Bina Citra Teknik Cahaya/BCTC, yakni CV. Cahaya Pilar Konstruksi/CV. CPK.

Seperti disaksikan Tim Media ini dalam perjalanan menuju Bajawa, Ibukota Kabupaten Ngada, tampak satu unit excavator sedang diparkir di sisi timur Jembatan Raja. Dari atas mobil, tampak ada pekerjaan dinding penahan di kedua sisi kali tersebut.

Tim Media lalu memarkir kendaraan dan ingin melihat pekerjaan yang belum selesai tersebut karena tak ada 1 orang pekerja pun yang sedang beraktivitas di lokasi itu. Ternyata di jembatan tersebut, ada juga pekerjaan Bronjong.

Saat diperhatikan dari atas jembatan, ada pekerjaan pasangan dinding penahan di sisi timur dan barat kali Raja. Di sisi barat, tampak dinding penahan telah selesai dikerjakan.

Namun di sisi timur jembatan tersebut, tampak belum selesai. Tampak lubang fondasi yang masih menganga dan terisi penuh dengan resapan air kali.

Tim Media ini pun mengambil foto dan video untuk dokumentasi. Tampak Pekerjaan Bronjong di kedua sisi kali yang dipasang untuk melindungi pondasi jembatan (abudment). Bronjong di sisi barat hanya sepanjang pondasi jembatan. Sedangkan Bronjong di sisi timur, dipasang sekitar 30 meter. Ketinggian Bronjong di kedua sisi tersebut sekitar 1 meter.

Namun saat diperhatikan lebih seksama, ternyata ada yang janggal dari pekerjaan Bronjong tersebut. Ternyata bebatuan yang digunakan untuk Bronjong adalah batu-batu berukuran kecil.

Bronjiong yang menggunakan batu Gunung sebesar buah mangga di Jembatan Raja, jalan negara trans Flores ruas Gako-Aegela.

Bahkan lebih banyak yang berukuran sebesar buah mangga. Batu paling besar berukuran sebesar buah kelapa.

Tumpukan batu yang digunakan untuk bronjong dan pasangan dinding penahan

Batu-batu yang digunakan itu merupakan batu gunung, bukan batu kali. Padahal untuk pekerjaan bronjong, biasanya menggunakan batu kali yang berat agar tidak tersapu banjir. Juga tidak mudah pecah/hancur saat dihantam material yang dibawa air saat banjir.

Sementara itu, batu gunung yang digunakan dalam pekerjaan Bronjong tersebut, selain kecil, juga ringan dan mudah pecah/hancur.

Seperti disaksikan Tim wartawan, batuan tersebut merupakan batu bekas galian breaker excavator. Batu yang sama itu juga digunakan sebagai batu pasangan pekerjaan dinding kali di lokasi itu.

Batu yang digunakan untuk Bronjong di lokasi itu, bahkan tampak lebih kecil jika dibandingkan dengan batu pasangan (yang terlihat dilokasi tersebut) yang telah dikerjakan tahun-tahun sebelumnya.

Batu pasangan dinding penahan tampak lebih besar dari batu bronjong

Pejabat Pembuat Komitmen, Frumensia Silvia yang dikonfirmasi wartawan melalui pesan What’s  App/WA mengakui jika pekerjaan Bronjong tersebut merupakan salah satu item pekerjaan Preservasi Jalan Nasional Ruas Gako-Aegela-Danga-Nila-Marapokot senilai Rp 6,2 M. “Semua satu paket kerjaan karena namanya Long Segmen/Preservasi jalan, banyak output dan satu kontrak” tulis wanita yang akrab disapa Silvi.

Proyek tersebut, jelasnya, dikerjakan oleh CV. Cahaya Pilar Konstruksi (anak perusahaan PT. Bina Citra Teknik Cahaya/BCTC, bukan oleh PT. BCTC, red). Waktu pelaksanaan sejak 15 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022.

Namun saat dikonfirmasi tentang spesifikasi batu gunung berukuran kecil yang digunakan dalam pekerjaan Bronjong Jembatan Raja, Silvi enggan untuk menjelaskannya.

“Untuk semua pekerjaan preservasi jalan, kami masih dalam tahap pelaksanaan, nanti tanggal 31 desember baru PHO, kalo memang ada kekurangan pasti kami perbaiki. Terima kasih untuk penyampaian nya,” jawab Silvi.

Pemilik CV. Cahaya Pilar Konstruksi, Heng Kosmas tidak dapat dikonfirmasi karena telah memblokir wartawan.

Seperti diberitakan sebelumnya, Proyek ‘Plamir’ Jalan Negara Gako-Aegela-Marapokot Senilai Rp 6,2 M oleh anak perusahaan PT. BCTC, yakni CV. Cahaya Pilar Konstruksi, ternyata hancur setelah dikerjakan.

Diduga dikerjakan asal jadi alias tidak sesuai spesifikasi teknis (spek) dan bestek. Karena tipisnya lapisan hotmix (hanya sekitar 1 cm, red) dari pekerjaan pecing tersebut maka tampak seolah-olah jalan negara itu ‘diplamir’ dengan hotmix. Bahkan ada sekitar 40 titik pecing yang telah dikerjakan, tampak telah retak, pecah, amblas, hancur dan terbongkar dari badan jalan.

Seperti disaksikan Tim Media ini pada Kamis (17/11/22), terdapat sekitar 40 titik yang telah selesai di-patching, telah retak, pecah, amblas, hancur dan terbongkar. Sebagian besar dari titik-titik patching di Desa Ulupulu hingga pasar Raja yang telah selesai dikerjakan sebulan terkhir itu, telah kembali retak, pecah,  amblas, hancur dan terbongkar.

Ada sekitar 40 titik patching yang telah retak, pecah, amblas, hancur, dan terbongkar. Kerusakan ini mulai terlihat dari Kecamatan Aegela hingga  Raja, Kabupaten Nagekeo.

Di ruas jalan tersebut, tim wartawan juga menemukan pekerjaan patching yang asal jadi. Hotmix lama tidak dipotong (cutting) tapi langsung dilapisi hotmix yang sangat tipis. Bahkan ketebalan lapisan hotmix tersebut kurang dari 1 cm. Akibatnya, pekerjaan yang tak sesuai spek dan bestek itu tampak seperti jalan negara sedang diplamir dengan hotmix. Tim Wartawan juga menemukan adanya titik-titik aspal rusak yang yang tidak dipotong (cutting) sebelum di-patchng.

Pada Sabtu (20/11/22) saat Tim Wartawan melintasi Ruas Aegela menuju Kota Mbay, Tim wartawan kembali menemukan pekerjaan pecing yang tidak sesuai bestek dan spesifikasi teknis (spek). Saat melintas di Ruas Jalan Negara Aegela-Danga,  tepatnya di Kesidari, tampak dari mobil yang sedang melaju, terlihat adanya titik-titik pekerjaan patching yang diduga tidak sesuai spek dan bestek alias dikerjakan asal jadi.

Seperti disaksikan Tim Wartawan, pekerjaan patching di ruas tersebut tampak sangat tipis bahkan ada yang tidak mencapai tebal 1 cm. Sebagian besar titik yang diperbaiki alias di-pecing tidak dilakukan pemotongan aspal (hotmix yang rusak, red). Kontraktor juga tidak mengganti/mengeluarkan aspal yang rusak (cutting, red). Sudah tentu agregat yang menjadi pondasi jalan dititik yang rusak tersebut. Padahal agregat tersebut menjadi penyebab kerusakan jalan tersebut.

Yang tampak, titik hotmix yang rusak langsung disiram prime coat dan dilapisi kembali dengan hotmix. Pada beberapa titik tampak ada bekas potongan hotmix menggunakan alat pemotong hotmix. Namun hotmix itu tidak dibongkar dan diganti agregatnya tapi langsung disiram prime coat lalu dilapisi kembali dengan hotmix. Lapisan hotmixnya tampak sangat tipis seperti diplamir. Permukaan aspal juga tampak kasar dan bergelombang.

Diduga ini merupakan modus untuk menipu konsultan pengawas dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), sehingga dibuat seolah-olah titik pecing tersebut telah dilakukan cutting/dipotong terlebih dahulu. Dugaan ini semakin kuat, ketika Tim Wartawan kembali menemukan beberapa titik dengan kondisi yang sama. Bahkan ada titik yang panjangnya mencapai puluhan meter dengan lebar sekitar 2 meter di daerah Kesidari menuju Kota Mbay yang menggunakan modus yang sama. (sf/tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here