SMPK Sta. Familia Kupang Tanamkan Disiplin Hidup Bersih Sejak Masa PLS

18

Kota Kupang, CNNews.Id – Disiplin dan budaya hidup bersih sudah menjadi hal yang lumrah bagi Sekolah Menengah Pertama Katolik (SMPK) Sta. Familia – Sikumana, Kota Kupang yang dikelola oleh Yayasan Mgr. Gabriel Manek, SVD. Suster-Suster dari Biara PRR dan para guru di sekolah dengan Akreditasi A Unggul itu selalu menanamkan disiplin dan budaya hidup bersih kepada siswa/i baru (kelas 7, red) sejak masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS).

Demikian dikatakan Kepala SMPK Sta. Familia, Sikumana – Kota Kupang, Sr. M. Annunciata Maria Sedu Oyi, PRR kepada wartawan pada Selasa (29/11/22) siang. Menurutnya, disiplin untuk menjaga kebersihan sekolah sudah dilaksanakan pihaknya sejak awal sekolah tersebut didirikan.

“Untuk kebersihan sudah menjadi kebiasaan dan budaya di sekolah ini sejak dahulu. Kami selalu menanamkan disiplin dan budaya hidup bersih kepada siswa/i sejak awal masuk ke sekolah ini. Sejak masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS), kita sudah tegaskan aturan, tata tertib dan disiplin sekolah, terutama disiplin untuk menjaga kebersihan sekolah,” papar Sr. Annunciata, PRR.

Ia menegaskan, hal yang paling penting untuk menjaga kebersihan sekolah adalah kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya. “Karena kalau anak tidak dilatih untuk membuang sampah pada tempatnya sejak awal, maka lingkungan sekolah setiap harinya akan terdapat sampah di mana-mana. Karena itu sejak dini di masa PLS, kita benar-benar jaga ketat anak-anak untuk benar-benar memastikan sekecil apapun sampah itu, harus dibuang ke tempat sampah,” tegas Sr. Annunciata.

Pihaknya, lanjut Sr. Annunciata, menanamkan displin kepada siswa/i bahwa apapun sampah plastik harus di buang pada tempat sampah. “Itu yang kami tekankan, mulai dari sedotan yang paling kecil. Sedotan permen lidi biasanya, setelah makan anak-anak langsung buang. Begitu juga kulit permen sampai dan sampah-sampah plastik yang lain harus dipastikan masuk ke tempat sampah. Tidak dibuang di lingkungan sekolah atau di ruang kelas,” tandasnya.

Ia menjelaskan, pihaknya membiasakan siswa/i untuk aktif dalam kegiatan pembersihan kelas dan lingkungan sekolah. “Kami tak mau siswa/i dimanjakan dan tergantung dengan cleaning service dan Satpam untuk kebersihan sekolah. Siswa/i diberi tugas dan tanggungjawab untuk membersihkan kelasnya masing-masing,” ujar Sr. Annunciata.

Pihaknya melatih peserta didik untuk memiliki disiplin dan tanggungjawab terhadap kebersihan kelas dan lingkungan sekolah. “Kebersihan itu harus dijaga dan menjadi tanggung jawab peserta didik. Mengapa? Karena kita mau melatih anak-anak untuk menjaga kebersihan. Setiap siswa/i harus terampil membersihkan lingkungan, baik ruang kelas, emper dan lingkungan sekolah,” tandasnya.

Dengan dimikian, harapnya, peserta didi benar-benar dilatih untuk menjaga kebersihan secara mandiri. “Tidak di-ninabobo-kan dengan cleaning service. Jadi masing-masing siswa/i harus tahu bahwa kebersihan menjadi tanggung jawabnya,” kata Sr. Annunciata.

Sr. Annunciata memaparkan, guru piket harian harus mengontrol kebersihan kelas, emper dan lingkungan depan kelas sebelum melakukan apel pagi. “Harus memastikan bahwa setiap siswa yang ditugaskan hari itu untuk membersihkan kelas sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Petugas piket setiap kelas, akan membersihkan kelasnya usai jam terakhir Kegiatan Belajar-Mengajar (KBM), didampingi guru mata pelajaran terakhir,” tuturnya.

Siswa piket kelas, kata Sr. Annunciata, harus memastikan ruang kelas, emper dan lingkungan depan kelas dalam keadaan bersih. “Begitu pun di laci-laci meja. Dengan begitu, kelas sudah ditinggalkan dalam keadaan bersih. Sehingga besok pagi langsung digunakan. Tidak ada lagi pembersihan setiap pagi oleh anak-anak,” tuturnya.

Pembersihan lingkungan di pagi hari, lanjutnya, hanya dilakukan oleh siswa/i yang terlambat datang ke sekolah. “Kita memberikan sanksi disiplin untuk melatih disiplin mereka dengan mencabut rumput atau membersihkan lingkungan, kebun atau menyiram tanaman di musim kemarau,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Sr. Annunciata, pihaknya juga menanamkan disiplin kepada peserta didiknya untuk tidak mencoret tembok dan merusak fasilitas kelas/sekolah. “Kita tanamkan disiplin itu melalui pendidikan karakter di sejak masa Pengenalan Lingungan Sekolah. Itu sangat penting sehingga siswa/i tidak punya budaya coret-coret tembok dan merusak fasilitas sekolah,” ungkapnya.

Menurutnya, kebersihan tembok dan keamanan sarana-prasarana seperti meja-kursi, menjadi tanggungjawab kelas masing-masing. “Sehingga ada kotor di tembok ruang kelas, maka menjadi tanggungjawab kelas itu untuk bersihkan dan cat ulang temboknya,” kata Sr. Annunciata.

Untuk sarana/prasana yang dirusak oleh siswa/i, lanjutnya, maka yang bersangkutan wajib menggantinya. “Jika dipastikan ada peserta didik yang secara sengaja merusak fasilitas yang ada. Dia wajib mengganti. Karena itu masing-masing kelas benar-benar menjaga kebersihan kelas dan keamanan sarana-prasarana yang ada di kelasnya,” tuturnya.

Mengenai lingkungan yang tetap hijau dan asri, jelas Dr. Anunnciata, karena memang anak-anak dibiasakan untuk menanam. “Lahan sekolah yang luasnya sekitar 2 Ha ini juga dibuat kebun untuk menanam, terutama di musim hujan. “Bahkan di musim kemarau halaman ini pun penuh dengan sayur-sayuran yang ditanam anak-anak,” tuturnya.

Di SMPK Sta. Familia, lanjutnya, ada mata pelajaran Mulok (muatan lokal, red) atau prakarya. “Pelajaran Mulok ini dipakai untuk melatih anak-anak bercocok tanam. Ada proyek untuk melatih mereka,” ujarnya

Dengan demikian, papar Sr. Annunciata, halaman SMPK Sza Familia tampak hijau dan asri. “Kalau melihat ada berbagai jenis tanaman hijau disini, itu ditanam siswa/i. Ada jagung, terong, kacang tanah, kacang hijau dan lainnya, itu memang ditanam setiap tahun oleh anak-anak. Kita sudah terapkan ini sebelum adanya Kurikulum Merdeka Belajar,” ungkapnya.

Seperti disaksikan wartawan, lingkungan SMPK Sta. Familia Sikumana, Kota Kupang tampak bersih, rapi, dan hijau. Berbagai jenis tanaman bunga, buah-buahan seperti jeruk nipis, mangga, nangka, jambu hitam, kelapa dan lainnya di tanam di pekarangan sekolah dan kebun.

Di kebun sekolah, juga tampak kebun jagung yang sudah berbunga. Ada terong ungu yang sudah mulai berbuah. Ada kacang tanah, kacang hijau dan jagung yang baru mulai tumbuh. Ada pula beberapa rumpun pohon pisang. (cnn/ian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here