Kasatker Minta Kontraktor Perbaiki Patching dan Bronjong Ruas Gako-Aegela-Marapokot

21

Ende, CNNews.Com – Kepala Satuan Kerja (Kasatker) 4 Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN)  NTT, Eben Adam melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.1 Frumensia Silvia telah meminta kontraktor pelaksana proyek preservasi jalan nasional CV. Cahaya Pilar Konstruksi (anak perusahaan PT. BCTC, red) untuk memperbaiki titik-titik patching yang kembali rusak di Ruas Jalan Gako-Aegela-Danga-Nila-Marapokot. Juga memperbaiki pekerjaan bronjong di Jembatan Raja.

Demikian dikatakan Kasatker Eben kepada Tim Media ini di ruang kerjanya pada Kamis (24/11/22) ketika dikonfirmasi terkait Proyek Preservasi Jalan Nasional, ruas Gako-Aegela-Danga-Nila-Marapokot senilai Rp 6,2 Milyar tahun 2022.

“Kami sudah minta kepada kontraktor melalui PPK untuk memperbaiki titik-titik yang rusak kembali setelah di patching (ditambal, red).  Begitu pula pekerjaan bronjong di Jembatan Raja, akan diperbaiki,” ujar Kasatker Eben.

Menurut Eben,  pihaknya tetap berkomitmen untuk meningkatkan existing jalan pada ruas-ruas yang menjadi tanggung jawab Kasatker PJN 4. “Namun pihaknya mengalami kendala terkait keterbatasan dana. Kami usulkan volume preservasi sesuai survey awal. Tapi kemudian muncul titik-titik baru di luar volume yang direncanakan untuk dikerjakan,” jelasnya.

Oleh karena itu, Eben telah meminta kepada PPK 4.1, Frumensia Silvia untuk mengusulkan tambahan dana sekitar 10 persen agar dapat memperbaiki titik-titik kerusakan yang baru muncul setelah pengusulan dana. “Kami akan perbaiki semua titik yang rusak. Saya sudah minta PPK untuk usulkan tambahan dana 10 persen (dari kontrak, red),” tandasnya.

Menurut Eben, pihaknya tetap berkomitmen untuk memperbaiki seluruh titik kerusakan jalan demi meningkatkan kondisi existing jalan. “Kondisi existing jalan di Satker 4 hanya sekitar 86 %. Kalau kerusakan itu tidak kita perbaiki maka kondisi existing jalan kita akan terus menurun. Sementara tahun ini, dana kita terbatas sekedar hanya untuk mempertahankan kondisi existing jalan. Tidak ada peningkatan jalan,” beber Eben.

Kasatker PJN 4, Eben Adam dan Kontraktor Pelaksana, Heng Kosmas

Kontraktor Pelaksana, Heng Kosmas yang dikonfirmasi Tim Media ini pada Kamis (24/11/22) malam melalui telepon selularnya, mengakui pihaknya telah diminta untuk memperbaiki titik-titik pekerjaan yang kembali rusak setelah di-patching. “Saat ini masih dalam masa kontrak Pak, jadi kami akan memperbaiki titik-titik patching yang masuk dalam volume sesuai kontrak di Gako-Aegela,” ujarnya.

Mengenai titik kerusakan di Kesidari, Heng Kosmas juga mengakui akan memperbaiki pekerjaan tersebut. “Itu juga akan kami perbaiki pak. Memang ada titik-titik baru yang rusak akibat  lalu lintas kendaraan,” katanya.

Sementara itu, mengenai pekerjaan bronjong yang menggunakan batu gunung berukuran buah mangga, Heng Kosmas mengatakan, juga akan memperbaiki bronjong tersebut. “Kalau bronjong kami sudah mulai perbaiki pak. Semua pekerjaan yang masuk volume pekerjaan, akan kami perbaiki,” tandasnya.

Namun pantauan Tim Media ini pada Rabu (23/11/22), peralatan yang digunakan oleh kontraktor pelaksana untuk pekerjaan preservasi di jalan nasional Trans Flores, ruas Gako-Aegela-Danga-Nila-Marapokot  yang di tempatkan di base camp Kota Mbay, telah dimobilisasi ke Ende. Seperti disaksikan Tim Media ini, finisher, tandem roller, aphalt prime dan peratalan lainnya milik kontraktor tersebut diparkir di Ndao, Ende untuk di bawa ke ruas Ende-Detusoko.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tim Media menemukan sekitar 40 titik kerusakan jalan, baik retak, pecah, amblas dan terbongkar di ruas Jalan Nasional Gako-Aegela. Padahal titik-titik tersebut belum lama di patching oleh kontraktor pelaksana. Diduga pekerjaan tersebut tidak sesuai Spesifikasi (Spek) dan Bestek. Bahkan karena tipisnya lapisan hotmix pada titik yang telah di patching maka terlihat seolah-olah jalan tersebut hanya di ‘plamir’ menggunakan hotmix.

Seperti disaksikan Tim Media ini pada Kamis (17/11/22), terdapat sekitar 40 titik yang telah selesai di-patching, telah retak, pecah, amblas, hancur dan terbongkar. Sebagian besar dari titik-titik patching di Desa Ulupulu hingga pasar Raja, Kabupaten Nagekeo yang telah selesai dikerjakan sebulan terkhir namun kembali retak, pecah,  amblas, hancur dan terbongkar.

Pekerjaan patching itu tampak dikerjakan asal jadi. Hotmix lama tidak dipotong (cutting) tapi langsung dilapisi hotmix yang sangat tipis. Bahkan ketebalan lapisan hotmix tersebut kurang dari 1 cm. Akibatnya, pekerjaan yang tak sesuai spek dan bestek itu tampak seperti jalan negara sedang diplamir dengan hotmix. Tim Wartawan juga menemukan adanya titik-titik aspal rusak yang yang tidak dipotong (cutting) sebelum di-patchng.

Pada Sabtu (20/11/22) saat Tim Wartawan melintasi Ruas Aegela menuju Kota Mbay, Tim wartawan kembali menemukan pekerjaan pecing yang tidak sesuai bestek dan spesifikasi teknis (spek). Saat melintas di Ruas Jalan Negara Aegela-Danga,  tepatnya di Kesidari, tampak dari mobil yang sedang melaju, terlihat adanya titik-titik pekerjaan patching yang diduga tidak sesuai spek dan bestek alias dikerjakan asal jadi.

Pekerjaan patching di ruas tersebut tampak sangat tipis bahkan ada yang tidak mencapai tebal 1 cm. Sebagian besar titik yang diperbaiki alias di-pecing tidak dilakukan pemotongan aspal (hotmix yang rusak, red). Kontraktor juga tidak mengganti/mengeluarkan aspal yang rusak (cutting, red). Sudah tentu agregat yang menjadi pondasi jalan dititik yang rusak tersebut. Padahal agregat tersebut menjadi penyebab kerusakan jalan tersebut.

Yang tampak, titik hotmix yang rusak langsung disiram prime coat dan dilapisi kembali dengan hotmix. Pada beberapa titik tampak ada bekas potongan hotmix menggunakan alat pemotong hotmix. Namun hotmix itu tidak dibongkar dan diganti agregatnya tapi langsung disiram prime coat lalu dilapisi kembali dengan hotmix. Lapisan hotmixnya tampak sangat tipis seperti diplamir. Permukaan aspal juga tampak kasar dan bergelombang.

Diduga ini merupakan modus untuk menipu konsultan pengawas dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), sehingga dibuat seolah-olah titik pecing tersebut telah dilakukan cutting/dipotong terlebih dahulu. Dugaan ini semakin kuat, ketika Tim Wartawan kembali menemukan beberapa titik dengan kondisi yang sama. Bahkan ada titik yang panjangnya mencapai puluhan meter dengan lebar sekitar 2 meter di daerah Kesidari menuju Kota Mbay yang menggunakan modus yang sama.

Tim wartawan juga menemukan pekerjaan bronjong di Jalan Negara Trans Flores, khususnya di Jembatan Raja, Boawae, Kabupaten Nagekeo, NTT yang diduga tak sesuai spesifikasi (Spek) dan Bestek karena batu yang digunakan untuk pekerjaan Bronjong tersebut hanya sebesar buah mangga. Pekerjaan tersebut merupakan salah satu item Proyek Preservasi Jalan Negara Ruas Gako-Aegela-Danga-Nila-Marapokot senilai Rp 6,2 Milyar oleh anak perusahaan PT. Bina Citra Teknik Cahaya/BCTC, yakni CV. Cahaya Pilar Konstruksi/CV. CPK.

Tampak Bronjong dipasang pada kedua sisi kali yang dipasang untuk melindungi pondasi jembatan (abudment). Bronjong di sisi barat hanya sepanjang pondasi jembatan. Sedangkan Bronjong di sisi timur, dipasang sekitar 30 meter. Ketinggian Bronjong di kedua sisi tersebut sekitar 1 meter.

Namun saat diperhatikan lebih seksama, ternyata ada yang janggal dari pekerjaan Bronjong tersebut. Ternyata bebatuan yang digunakan untuk Bronjong adalah batu-batu berukuran kecil. Bahkan lebih banyak yang berukuran sebesar buah mangga. Batu paling besar berukuran sebesar buah kelapa.

Batu-batu yang digunakan itu merupakan batu gunung, bukan batu kali. Padahal untuk pekerjaan bronjong, biasanya menggunakan batu kali yang berat agar tidak tersapu banjir. Juga tidak mudah pecah/hancur saat dihantam material yang dibawa air saat banjir.

Sementara itu, batu gunung yang digunakan dalam pekerjaan Bronjong tersebut, selain kecil, juga ringan dan mudah pecah/hancur. Batuan tersebut merupakan batu bekas galian breaker excavator. Batu yang sama itu juga digunakan sebagai batu pasangan pekerjaan dinding kali di lokasi itu.

Batu yang digunakan untuk Bronjong di lokasi itu, bahkan tampak lebih kecil jika dibandingkan dengan batu pasangan (yang terlihat dilokasi tersebut) yang telah dikerjakan tahun-tahun sebelumnya.

Pejabat Pembuat Komitmen, Frumensia Silvia yang dikonfirmasi wartawan melalui pesan What’s  App/WA mengakui jika pekerjaan Bronjong tersebut merupakan salah satu item pekerjaan Preservasi Jalan Nasional Ruas Gako-Aegela-Danga-Nila-Marapokot senilai Rp 6,2 M. “Semua satu paket kerjaan karena namanya Long Segmen/Preservasi jalan, banyak output dan satu kontrak” tulis wanita yang akrab disapa Silvi.

Proyek tersebut, jelasnya, dikerjakan oleh CV. Cahaya Pilar Konstruksi (anak perusahaan PT. Bina Citra Teknik Cahaya/BCTC, bukan oleh PT. BCTC, red). Waktu pelaksanaan sejak 15 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022.

Namun saat dikonfirmasi tentang spesifikasi batu gunung berukuran kecil yang digunakan dalam pekerjaan Bronjong Jembatan Raja, Silvi enggan untuk menjelaskannya.

“Untuk semua pekerjaan preservasi jalan, kami masih dalam tahap pelaksanaan, nanti tanggal 31 desember baru PHO, kalo memang ada kekurangan pasti kami perbaiki. Terima kasih untuk penyampaian nya,” jawab Silvi. (cnn/tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here