Diduga Tak Sesuai Bestek, Jembatan Raterunu 1 di Lintas Utara Flores Miring dan Bolong

16

Mbay, CNNews.Id – Diduga Jembatan Raterunu 1 di Kaburea, Kecamatan Wolowae, Kabupaten Nagekeo, NTT yang dibangun dengan dana sekitar Rp 3 Milyar oleh kontraktor pelaksana, CV. Anugerah Cipta Jaya dikerjakan asal jadi alias tidak sesuai spesifikasi teknis (spek) dan bestek (syarat teknis bangunan, red). Tampak abudmen/pondasi jembatan sepanjang 10 meter yang dibangun pada tahun 2015 ini amblas, patah sehingga badan jembatan tampak miring setelah setahun dibangun.

Seperti disaksikan Tim Wartawan pada di Jalan Lintas Utara FloresRuad Airamo – Kaburea dan menghubungkan Ibukota Nagekeo, Mbay menuju Kabupaten Ende tersebut miring ke arah barat. Kemiringan jembatan Raterunu 1 ini sudah tampak dari jarak sekitar 50 meter. Setelah Tim Wartawan mengamati keadaan seluruh jembatan, ternyata kemiringan itu akibat amblasnya abudmen/pondasi jembatan sebelah barat.

Pondasi jembatan sisi timur yang pecah dan patah

Tampak pondasi jembatan bagian barat itu amblas sekitar 50 cm. Akibatnya, pondasi jembatan bagian timur juga pecah dan patah karena badan jembatan bagian barat amblas mengikuti pondasi jembatan. Pada pondasi jembatan bagian timur ini tampak pecah dengan lebar sekitar 5 cm.

Pada plat beton jembatan tampak 2 lubang mengangga dengan diameter 1 meter dan 50 cm. Dari dua lubang di plat jembatan tersebut, dapat dilihat dengan jelas air yang mengalir di bawah jembatan tersebut. Plat beton jembatan tampak rapuh. Bahkan plat beton tersebut hancur berantakan oleh ujung jari tangan.

Dari plat beton yang hancur di tangan tim media, tak terlihat 1 butir batu pecah. Campuran plat beton jembatan Raterunu 1 itu hanya menggunakan kerikil dari bulat (dengan besaran yang tak beraturan, red) dan pasir kali. Ini juga dapat dilihat dengan jelas pada plat jembatan yang tampak terkikis oleh air.

Bahkan dari plat beton jembatan tersebut, tim wartawan melihat dan mengambil batu kali sebesar genggaman tangan orang dewasa hanya dengan 2 jari tangan. Di sisi barat jembatan tampak bekas tambal campuran Semen di plat beton jembatan. Diduga tambalan campuran itu untuk menutup lubang pada plat jembatan.

Tim wartawan pun mengamati besi beton yang digunakan kontraktor. Ternyata kontraktor menggunakan besi beton 14 ulir dan menyisipkan besi beton 12 banci di bagian tengah plat beton jembatan. Padahal untuk konstruksi plat beton jembatan tersebut, seluruh besi beton yang digunakan harus besi 14 ulir.

Pagar jembatan di sisi utara pun tampak patah. Bahkan tak ada sisanya. Pipa besi pagar dan beton penyangganya pun telah tersapu banjir. Kondisi ini tentu saja sangat membahayakan masyarakat yang melintas karena jembatan tersebut bisa ambruk setiap saat ketika dilintasi kendaraan.

Sementara itu, bronjong pengaman jembatan di sisi selatan jembatan juga telah tersapu banjir. Hanya tampak beberapa meter yang masih tersisa. Dari batu bronjong yang tersisa, tampak mengunnakan batu kali berukuran sedang dan kecil.

Sedangkan di bagian utara jembatan, tampak timbunan/gundukan tanah dan pasir di kedua sisi kali untuk menormalisasi aliran air kali tersebut. Ketinggian gundukan tanah itu sekitar 2 meter dengan panjang sekitar 40 meter, membentang di kedua sisi kali.

Sebelumnya, pada Selasa (22/11/22) saat Tim Wartawan melintas di jalan provinsi lintas utara Flores, tepatnya di Kaburea, ada jembatan yang tampak miring dan berlubang. Hari yang mulai gelap membuat Tim Wartawan ragu-ragu untuk melintas. Tim wartawan pun harus memarkir kendaraan dan turun untuk memastikan apakah jembatan tersebut dapat dilintasi mobil.

Tak lama kemudian datang mobil pick up melintas dari arah timur ke arah barat jembatan. Sopir pick berusaha melakukan sedikit trik memutar untuk menghindari 2 lubang yang mengangga itu. Satu lubang berdiameter sekitar 1 meter. Dan lubang lainnya berdiameter sekitar 50 cm.

Menurut Herman yang juga warga setempat. Jembatan Raterunu yang dikerjakan itu patah dan miring setelah setahun dikerjakan. “Setelah selesai kerja, masuk musim hujan dan banjir, jembatan langsung patah. Hanya sekitar 1 tahun sudah patah,” ungkapnya.

Ia menduga pekerjaan jembatan tersebut tidak sesuai dengan Spek dan Bestek yang tertera dalam kontrak pembangunan jembatan tersebut. “Kami ini orang tidak mengerti Pak, tapi kalau baru satu tahun langsung patah dan miring, yah pasti tidak sesuai dengan syarat yang seharusnya dikerjakan,” ujarnya.

Tak lama kemudian melintas lagi 1 unit dump truck. Sang sopir pun menghentikan kendaraannya tak jauh dari jembatan dan turun menemui tim wartawan yang berusaha mengamati kondisi jembatan hanya dengan bantuan senter dari handphone.

Tampak ada dua lubang diplat jembatan. Besi beton jembatan terlihat dengan jelas. Sementara pagar jembatan sisi selatan pun telah patah. Namun karena gelap, Tim Wartawan tak dapat melihat kondisi pondasi/abudmen jembatan.

“Pak lihat saja betonnya, bisa hancur begini hanya dengan jari tangan. Ini kerja macam apa. Saya yang tidak mengerti pekerjaan jembatan pun pasti tahu bahwa ini tidak kuat,” ujarnya sambil menghancurkan plat beton jembatan dengan jari-jari tangannya.

Ia mengaku heran dan kesal dengan kondisi jembatan tersebut. “Beton rumah saja tidak mungkin hancur begini pak. Kok jembatan yang dilalui oleh kendaraan setiap hari bisa tidak kuat seperti ini. Ini membahayakan masyarakat yang melintas di jembatan ini. Banjir tahun ini pasti plat jembatan ini sudah habis dikikis banjir,” ujarnya dengan nada kesal.

Hal sedana juga dikatakan seorang sopir truck, Otmar Sega, warga desa Penetutu. Ia juga bermukim tak jauh dari lokasi jembatan. “Jembatan ini sudah lama patah Pak. Sekitar 1 tahun setelah dibangun sudah patah dan miring,” ujarnya.

Ia mengaku memiliki kebun di sisi selatan jembatan. “Setiap tahun sering banjir dan meluap hingga badan jembatan Pak. Setelah membuat jembatan (bronjong pengaman jembatan, red), kali menjadi sempit. Saat curah hujan tinggi, aliran air kali yang membawa batang pohon selalu tersumbat setiap tahun. Airnya tertahan di jembatan dan meluap hingga rumah warga dan lahan sawah tertimbun pasir,” bebernya.

Malam itu, sempat terjadi antrian karena sopir kendaraan roda 4 dan roda 6 yang melintas di atas jembatan tersebut harus ekstra hati untuk menghindari dua lubang yang menganga di jembatan itu. Karena suasana yang gelap membuat Tim Wartawan tak dapat melihat kondisi jembatan yang sebenarnya maka diputuskan untuk kembali ke lokasi jembatan tersebut esok harinya, Rabu (23/11/22).  (sf/tim)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here